translated to :

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Kamis, 02 Februari 2012

Ibn Tufayl, Mengajarkan Filsafat Melalui Kisah

Dunia Sophie. Merupakan sebuah novel filsafat besutan Jostein Gaarder yang menarik minat banyak orang. Filsafat dalam karya novelis kelahiran Oslo tahun 1952 ini begitu cair. Ia mengisahkannya lewat pengalaman seorang gadis berumur empat belas tahun, bernama Sophie. Ceritanya, hampir setiap hari Sophie mendapatkan surat misterius yang mempertanyakan asal mula manusia, keberadaan dunia dan pertanyaan filosofis lainnya. Pertanyaan seperti itu memang tak pernah terlintas dalam benak Sophie sebelumnya. Meski semula kebingungan, akhirnya remaja itu menikmati petualangannya di dunia filsafat. Lewat pengalaman Sophie, pembaca juga memahami filsafat. Begitulah cara Gaarder membawa orang awam memahami filsafat. Cara yang sama, telah dilakukan berabad-abad silam oleh filsuf Muslim Muhammad Abu Bakr Ibn Tufayl. Filosof kelahiran Guadix, Spanyol pada 1110 M ini mengemas pandangan filsafatnya dengan sebuah 'novel' pula, yang bertajuk Hayy Ibn Yaqzan (The Living Son of Vigilant). Karyanya memang terinspirasi oleh murid Ibn Sina yang bernama Hayy Ibn Yaqzan, Salaman serta Absal. Tentang transformasi kehidupan

Kerangka karya Tufayl berasal dari cerita kuno di dunia timur, yaitu The Story of the Idol and of the King and His Daughter. Judulnya memang diambil dari karakter utama, Hayy Ibn Yaqzan. Melalui bukunya ini, Tufayl mengajak pembacanya untuk turut merasakan langsung dan memahami pandangan filsafatnya. Secara garis besar, ia menggambarkan tentang pengetahuan manusia, yang muncul dari sebuah kekosongan. Kemudian ia menemukan pengalaman mistik melalui hubungan dengan Tuhan. Dengan laku spiritual yang tak hanya dilakukan sebagai ritual an sich. Untuk mencapai pengalaman tersebut manusia juga mestinya 'mematikan' dirinya. Kisah Hayy Ibn Yaqzan bermula dari sebuah pulau yang tak berpenghuni. Ia adalah anak dari seorang wanita yang tak ingin buah pernikahannya diketahui oleh saudaranya, Yaqzan. Ia juga tak mau diketahui kakak laki-lakinya, penguasa di pulau tetangga. Tak lama setelah kelahiran Hayy, perempuan itu pun menyusuinya agar si bayi merasa nyaman dan kenyang. Kemudian ia memasukkannya ke dalam sebuah peti dan menghanyutkannya. Bayi itu pun terbawa arus ke sebuah pulau yang tak berpenghuni. Kala itu, ada seekor rusa betina mendengar suara tangis Hayy. Rusa betina yang baru saja kehilangan anaknya ini, kemudian menghampiri Hayy. Rusa betina itu memelihara Hayy sampai akhir hayatnya. Saat kematian 'ibu angkat'-nya, Hayy berumur tujuh tahun. Hidup di sekitar dunia hewan, Hayy pun berbicara dalam gaya mereka. Tak hanya itu. Ia pun menutupi tubuhnya dengan dedaunan setelah melihat banyak tubuh hewan yang tertutup oleh kulit maupun bulu yang lebat. Kematian rusa betina itu telah membuahkan transformasi kehidupan dari ketergantungan beralih pada eksplorasi dan penemuan. Itulah yang dilakukan Hayy. Ia pun memulai memikirkan bagaimana rusa betina itu bisa mati. Kenyataan itu ia cerminkan pula untuk mengetahui keberadaan dirinya. Ia mengamati tubuh rusa yang telah mati itu. Hayy berpikir, semua organ tubuh berfungsi dengan baik. Meski tentunya ada organ vital yang mampu membuat rusa itu menjalani kehidupannya. Namun, setelah berpikir lebih dalam, hal terpenting adalah sebuah entitas tubuh. Bukan salah satu organ tubuh yang menjadi instrumen vital. Hayy melihat hakikat ini juga terjadi pada manusia seperti dirinya. Setelah menemukan jawaban itu, pengamatan Hayy pun kemudian beralih ke objek-objek lain. Lewat perenungannya, Hayy dapat merumuskan konsep tentang benda, bentuk, sebab dan efek, kesatuan serta keberagaman. Juga konsep lainnya mengenai bumi dan surga. Ia memperoleh sebuah kesimpulan yang penting: semuanya diciptakan oleh pemilik eksistensi. Dan, mestinya selalu berhubungan dengan pemilik eksistensi tersebut, yaitu Tuhan. Jalan mencapai kebahagiaan

Sementara itu, di pulau tetangga terdapat sekelompok orang termasuk Raja Salaman yang menjalankan sebuah agama. Agama itu dijalankan sesuai keterangan dalam kitab sucinya meski hanya sebatas ritual dan melalui perantaraan. Absal, teman Salaman, melakukan kajian terhadap ritual agama tersebut, yang langsung menuju kepada inti agama. Bukan literal seperti yang dilakukan oleh orang-orang lainnya. Ia mencari apa yang sebenarnya ada di dalam kitab agama tersebut. Absal kemudian melakukan perjalanan menuju pulau tempat tinggal Hayy. Saat pertama kali bertemu Hayy, Absal merasakan takut. Namun, Hayy meyakinkan bahwa ia tak akan mengganggu. Absal kemudian mengajarkannya bahasa manusia. Lewat penggunaan bahasa, Hayy mampu menjelaskan kepada Absal perkembangan pengetahuannya. Absal menyadari, apa yang dipahami Hayy adalah yang dijelaskan di dalam agamanya sendiri. Yaitu keberadaan tentang Tuhan, kitab suci, malaikat, nabi, kehidupan setelah kematian, dan lain sebagainya. Pada saat Absal mendiskusikan kebenaran tersebut seperti yang tersebut di dalam agamanya, Hayy juga menemukan peneguhan atas perenungannya selama ini. Hanya saja, Hayy tak dapat memahami mengapa agama Absal menggunakan simbol dan menggunakan perantara, lewat penyembahan benda. Kemudian Hayy mengungkapkan ketertarikannya untuk mengunjungi pulau tetangganya itu. Ia ingin menyampaikan kebenaran dari keyakinannya kepada penghuni pulau itu. Absal kemudian menemaninya ke sana. Ia kemudian menyadari, sejumlah orang tak dapat menangkap kebenaran sejati. Ia pun menyadari bahwa agama mereka diperlukan bagi stabilitas dan perlindungan sosial. Hayy berpikir, apa yang mereka lakukan bukanlah sumber kebahagiaan. Untuk melakukan perubahan tentunya harus lewat jalan panjang. Namun, ia menyadari upaya pencerahan ini akan menyebabkan stabilitas masyarakat tersebut goyah. Maka, ia pun memilih meninggalkan mereka. Absal dan Hayy kembali ke pulau semula. Mereka mempraktikkan laku spiritual yang melahirkan pengalaman mistisisme. Dari pengalamannya, Hayy menemukan dua fakta ontologis yang penting. Pertama, di samping keberagaman benda terdapat sebuah kesatuan. Dan, selalu ada sesuatu yaitu jiwa yang selalu transenden. Ia pun akhirnya menyadari, mesti ada sebab awal terbentuknya dunia. Dunia tak terjadi tanpa adanya ruang dan waktu. Dan, penyebab semuanya adalah Tuhan. Kesadaran lain juga ada dalam dirinya. Yakni, kesadaran merupakan alat investigasi untuk mengetahui keberadaan Tuhan. Lebih jauh, ia juga menyimpulkan, hanya ada satu jalan untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan dan setelah hidup. Yakni, kehadiran sebuah energi yang selalu menuntunnya kepada Tuhan. Karya Tufayl ini banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, Prancis, dan Spanyol. Ia dianggap memiliki pengaruh besar bagi kebangkitan filsafat. Ia ditempatkan sebagai filsuf kedua yang memiliki pengaruh besar di dunia Barat setelah Ibn Bajjah. Dalam karyanya, Ibn Tufayl berupaya melakukan rekonsiliasi antara agama dan spekulasi rasional. Padahal para filosof sebelum dan sesudah masanya jarang melakukan hal tersebut. Paling tidak, ada upaya Tufayl mempertemukan antara filsafat dan agama. Ia tak hanya menekankan pentingnya membahas eksistensi Tuhan dengan sebuah alasan yang masuk akal. Tufayl meyakini ada sebuah jalan mistis yang dapat dirasakan jika berhubungan dengan Tuhan. Tentunya melalui laku spiritual yang dijalankan secara teratur. Pandangannya ini dianggap oleh berbagai kalangan sebagai sebuah pencerahan. Setelah bergelut dengan pemikirannya serta memberikan pencerahan bagi orang lain, ia menghembuskan napas terakhir pada 1185 M di Maroko. ( fer/berbagai sumber )

Al-Muqaddasi, 'Penggambar' Dunia

Gambaran detil mengenai sebuah negeri atau wilayah begitu penting bagi manusia saat peralatan komunikasi belum secanggih sekarang. Dan, Al-Muqaddasi, cendekiawan Muslim pada awal abad ini, menjadi tokoh yang banyak disebut dalam penyebaran informasi mengenai banyak negara ini. Dialah pionir dalam melukiskan dan memberikan gambaran secara mendetail mengenai tempat yang pernah ia kunjungi. Tak hanya terkait keadaan geografis. Ia juga menulis mengenai adat istiadat, aktivitas perdagangan, maupun mata uang yang berlaku di sebuah negara. Ahsan al-Taqasim fi Ma'rifat al-Aqalim (The Best Divisions for Knowledge of the Regions), merupakan kumpulan tulisannya. Dari hasil perjalanannya ke berbagai negara, karya tulis tersebut diterbitkan pada 985 M. Pada awal paruh abad kesembilan belas orientalis dari Jerman, Aloys Sprenger, membawa manuskrip dari karya Al-Muqaddasi. Rupanya, karya ini telah menyedot perhatian ilmuwan Barat. Mereka melontarkan pujian atasnya. Bahkan mereka pun menyatakan bahwa Ahsan al-Taqasim fi Ma'rifat al-Aqalim mencerminkan kepiawaian dan kecerdasan seorang ahli geografi. Dan kemampuan Muqaddasi itu, diklaim tak tertandingi sepanjang masa. Pandangannya masih terkait dengan aspek-aspek metode geografis pada masa sekarang. Misalnya, mengenai penggunaan peta. Ini terbukti sangat berguna dalam kehidupan modern sekarang. Al-Muqaddasi memang seorang ahli geografi yang mumpuni. Ia mencurahkan tenaga dan masa hidupnya untuk mengembangkan kemampuannya. Pria kelahiran Al-Quds, Jerussalem pada 946 ini, tak hanya mengandalkan kemampuan diri. Ia tak pernah mengabaikan kekuatan yang menguasai dirinya. Allah Swt. Untuk menjaga ketajaman ingatannya, ia selalu berinteraksi dengan Tuhannya. Tak heran jika mendapatkan gelar sebagai saintis yang sesungguhnya. Ia melancong ke berbagai wilayah untuk melakukan observasi, penelitian, pengumpulan data. Kemudian menuliskannya dalam sebuah karya. Pada sisi lain, muncul pandangan bahwa ia adalah agen pemerintahan Fatimiyah di Mesir memang tak dapat ditepiskan. Namun apapun alasanya, ia adalah orang yang memiliki kemampuan dan kecerdasan. Untuk melukiskan sebuah wilayah, ia membagi pekerjaanya menjadi dua bagian. Pertama melakukan pengamatan dan mendeskripsikan setiap tempat di wilayah ia amati. Biasanya, ia memfokuskan diri pada pusat kegiatan masyarakat di sebuah wilayah. Objek pengamatan yang tak luput adalah populasi, keberagaman etnik, kelompok sosial, mata pencaharian, sumber daya mineral, peninggalan arkeologi, maupun mata uang yang digunakan. Pendekatan ini, oleh banyak ilmuwan sangat berbeda dengan para pendahulunya. Karena pendekatan yang dilakukannya mencakup hal yang lebih luas. Ia tak hanya merangkum beragam letak geografis dalam alam pikirannya. Namun ia pun, berkeinginan menyuguhkan penjelasan mengenai dasar-dasar dan fungsi masyarakat Islam dari sebuah wilayah yang ia kunjungi. Misalnya, dalam mengatasi berbagai hambatan alam. Pada akhirnya, mendorong masyarakat melakukan inovasi. Ia menceritakan secara detil mengenai pengelolaan air dan teknologi hidrolik. Teknologi ini berguna bagi masyarakat Mesir kala itu, untuk mengelola air dan menjamin berjalannya sistem pertanian. Di Biyar, yang terdapat di wilayah Al-Daylam, Mesir, ia mencatat adanya kelangkaan air. Dan mencatat bahwa air tersebut didistribusikan dengan menggunakan water clock. Ini adalah satu-satunya cara untuk mengalirkan air. Ia pun mencatat di Ahwaz, sebuah tempat di Khuzistan, terdapat roda air yang disebut dengan na'ura, yang sangat berguna untuk mengalirkan air ke kanal. Masalah fiskal, keuangan, dan mata uang serta fluktuasi yang terjadi juga menjadi perhatian Al-Muqaddasi. Pada saat mengunjungi Maghrib, Baghdad, Irak ia menyatakan bahwa semua provinsi di daerah tersebut hingga yang berbatasan dengan Damaskus menggunakan dinar. Ada pula rub yang bernilai seperempat dinar. Dirham juga digunakan sebagai alat tukar menukar di sana. Setengah dirham dinamai dengan Qirat. Terdapat pula Khurnaba yang bernilai seperempat, seperdelapan, seperenambelas bagian.Pergantian dari satu mata uang ke mata uang lainnya juga menjadi perhatian lainnya. Ia bahkan mampu menggali berapa besarnya pendapatan di suatu wilayah yang ia kunjungi. Kala ia mengunjungi Provinsi Yaman, ia mencatat bahwa wilayah Hadramaut memiliki pendapatan sebesar seratus ribu dinar. Al-Yaman serta Al-Bayrayn masing-masing memiliki pendapatan enam ratus riby dinar dan lima ratus ribu dinar. Ia bahkan memberikan gambaran secara detail baik nama, luas wilayah dan perbandingan dengan wilayah lainnya. Dalam karyanya, ia pun menyuguhkan sejarah mengenai tempat yang ia kunjungi. Kondisi masyarakat Islam urban, evolusinya, keberagaman, dan kompleksitasnya merupakan daya tarik bagi Al-Muqaddasi untuk menuliskannya. Hal ini memberikan gambaran yang begitu nyata bagi para pembaca karyanya. Tak heran jika kemudian A Miquel, sejarawan dari Prancis, merangkum karya Muqaddasi tersebut. Menurutnya Al-Muqaddasi dapat membedakan antara kota kecil dan besar melalui keberadaan masjid besar dan mimbarnya. Terkait dengan hal ini, Miquel menyatakan bahwa Al-Muqaddasi mempelajari keadaan setiap kota yang ia lalui, misalnya keadaan masyarakat maupun jarak di antara kota tersebut, akeses keluar masuk, lokasinya berdasarkan topografi. Juga mengenai pasar, pasang surutnya, dan perdagangan di kota tersebut dengan kota lainnya. Berapa besar pendapatan dan bagaimana pula pendapatan tersebut didistrbusikan. Dengan pertimbangan hubungan antara topografi dan ekspansi urban atau masyarakat kota, ia mencatat bahwa di tempat seperti Arab Saudi, laut yang ada di sana menjadi daya tarik bagi kedatangan banyak orang ke sana. Membuka batas antara laut hingga menimbulkan perdagangan. Al-Muqaddasi mencatat pula, kata A Miquel, bahwa Nabi Muhammad pada masa sebelumnya telah membuka pasar yang menghubungkan antara Adan dan Mina. Al-Muqaddasi telah memberikan sumbangsih bagi dunia Islam. Kemampuannya, juga telah diakui oleh para ilmuwan dunia. Bahwa ia telah memantik perkembangan geografi di dunia barat. Selama 20 tahun ia habiskan waktunya untuk melancong dan menuliskannya dalam sebuah karya. Ia menghembuskan nafas terakhir di kota kelahirannya, beberapa tahun setelah Ahsan Al-Taqasim fi Ma'rifat Al-Qalim diterbitkan.

Rabu, 01 Februari 2012

Muhamad Ibn Maslamah, Sang Ksatria

Semasa hidupnya, Nabi Muhammad dikelilingi sahabat-sahabat yang memiliki keunikan dan kelebihan. Baik dalam tampilan fisik maupun sifat mulia yang ditampakkannya. Ini kerap menjadi sebuah kelebihan para sahabat. Kelebihan dan keunikan mereka juga membantu Muhammad dalam menjalankan tugas kenabiannya. Salah satu sahabat tersebut adalah Muhamad Ibn Maslamah. Ia berperawakan tinggi dan besar. Hingga di kalangan sahabat, ia mendapatkan julukan 'raksasa'. Meski tampilan fisiknya seperti itu, Maslamah merupakan seorang pendiam, pemikir, amanah, dan selalu taat menjalankan ajaran agamanya. Ia juga dikenal sebagai orang pemberani. Dalam medan pertempuran ia bahkan selalu berada di barisan terdepan. Meski bernama Muhamad Ibn Maslamah, ia tidak terlahir sebagai Muslim. Namun ia merupakan generasi pertama di Yatsrib atau Madinah yang memeluk Islam. Ia masuk Islam di bawah bimbingan Musab ibn Umayr, yang merupakan utusan pertama Nabi Muhammad di Madinah. Muhamad Ibn Maslamah memeluk Islam sebelum orang-orang yang berpengaruh di Madinah memeluk Islam, seperti Usayd ibn Hudayr dan Sad ibn Muadh. Tak heran jika ia selalu bergabung dalam setiap pertempuran untuk mempertahankan kemuliaan Islam. Pernah sekali ia tak bergabung dalam sebuah pertempuran yaitu Perang Tabuk. Sebab saat itu ia mendapatkan tugas bersama sahabat Ali bin Abi Thalib untuk tetap di Madinah untuk menjaga kota tersebut. Nabi Muhammad melihat pula kesetiaan dan kegigihannya dalam membela Islam. Beliau tak jarang pula mempercayakan pasukan Islam kepada Maslamah. Pada Perang Uhud, ia dipercaya untuk mebawahi 50 prajurit dan memberinya tugas untuk melakukan patroli sepanjang malam di perkemahan pasukan Islam. Dalam peperangan tersebut, pasukan Islam sedikit kewalahan dalam menghadapi musuhnya. Saat itu, sekitar tujuh puluh prajurit Muslim gugur dan lainnya kocar-kacir menyelematkan diri. Sedangkan prajurit lainnya, termasuk Maslamah, membentuk pasukan kecil untuk melindungi keselamatan Nabi Muhammad. Semangat berkorban demi Islam juga terlihat dalam peristiwa lain. Pada masa awal Rasulullah Muhammad tinggal di Madinah, ia mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi di kota tersebut. Namun pemimpin Yahudi melanggar perjanjian tersebut. Dan membujuk suku-suku lainnya yang ada di Madinah untuk melakukan pemberontakan. Mereka melakukannya dengan cara adu domba hingga melemahkan kekuatan umat Islam di Madinah. Salah satu kelompok Yahudi yang melakukan penghasutan adalah Bani Qaynuqa. Namun upaya mereka dapat dipatahkan dan Rasul memerintahkan mereka keluar dari Madinah secara damai. Sayang, kejadian ini tak menyurutkan orang-orang Yahudi menghentikan perlawanan. Salah satu tokoh perlawanan adalah Kab ibn al-Ashraf. Saat itu, ia adalah pihak yang sangat membahayakan keutuhan umat Islam. Rasul berpikir bahwa keadaan ini harus dicarikan pemecahannya. Kemudian Nabi menyatakan kepada para sahabatnya, siapa yang akan menjadi sukarelawan untuk melakukan pembicaraan dengan Kab ibn al-Ashraf. Tak lama kemudian, Muhamad ibn Maslamah mengajukan dirinya untuk mengemban tugas tersebut. Meski ia pun akhirnya bingung bagaimana caranya berhadapan dengan Kab. Menurut sebuah riwayat ia bahkan mengurung diri di rumahnya selama tiga hari tanpa makan dan minum, memikirkan bagaimana menghadapi Kab. Rasulullah akhirnya mendengar kabar tersebut lalu memanggil dan menanyakan mengapa Maslamah sampai melakukan hal itu. Saat itu Maslamah menyatakan bahwa ia telah telanjur sanggup menghadapi Kab namun belum menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya. Rasul yang bijak, menenangkan gejolak hati yang dialami Maslamah dengan mengatakan bahwa apa yang harus Maslamah lakukan adalah hanya berusaha. Setelah mendengar nasihat tersebut, Maslamah merasa lebih tenang. Dan bergegas menemui sahabat lainnya untuk meminta masukan, termasuk kepada Abu Nailah, yang sebelumnya adalah suadara Kab ibn al-Ahsraf. Di saat lain, tepatnya tahun keempat hijrah, Nabi Muhammad menemui sebuah suku Yahudi yaitu Bani Nadir untuk meminta bantuan atas sebuah masalah. Namun ternyata suku tersebut sedang merencanakan upaya pembunuhan terhadap Nabi. Segera Nabi kembali ke pusat kota Madinah. Ia memanggil Muhammad Ibn Maslamah dan mengirimnya ke suku tersebut. Maslamah membawa perintah dari Nabi bahwa Bani Nadir harus meninggalkan Madinah dalam jangka waktu sepuluh hari. Ini dilakukan karena keculasan mereka. Beragam kepercayaan ini merupakan bukti bahwa Muhamad Ibn Maslamah merupakan sahabat yang setia, pemberani, dan jujur. Kepercayaan yang ia dapatkan tak hanya selama masa hidup Nabi. Setelah masa hidup Nabi, Maslamah juga mendapatkan kepercayaan yang berlimpah. Contohnya, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Khattab, ia dipilih menjadi salah satu menteri. Tak hanya itu, ia juga dianggap sebagai teman dan penasihat terpercaya sang khalifah. Sebelum dia diangkat menjadi menteri, ia dikirim ke Fustat, Mesir, untuk menopang pasukan Amr Ibn Al-Aas. Karena saat itu Amr memang meminta Khalifah Umar untuk mengirimkan bala bantuan untuk memperkuat ekspedisinya. Umar mengirimkan empat detasemen yang setiap detasemen terdiri dari seribu prajurit. Salah satu detasemen tersebut dipimpin oleh Muhamad Ibn Maslamah. Kepada Amr, Umar menyampaikan sebuah pesan bahwa ia mengirimkan Muhamad Ibn Maslamah untuk membantu meraih kejayaan dalam menjalankan misinya. Maka Amr harus menerima Maslamah dan memaafkannya jika Maslamah melakukan sebuah kesalahan. Nyatanya, Maslamah memberikan kontribusi yang berharga bagi kesuksesan misi yang dijalankan Amr di Fustat tersebut. Setelah kepemimpinan Umar digantikan oleh Usman Ibn Affan, Maslamah juga tetap mendapatkan kedudukan yang terhormat di mata khalifah ketiga tersebut. Nahas, di kemudian hari ia meninggal bukan karena pertempuran melawan musuh. Ia terbunuh pada saat terjadi perang saudara antar umat Islam. Kala itu ia tak lagi mau menggunakan pedang yang diberi oleh Rasulullah Muhammad dan selalu ia gunakan dalam setiap pertempuran. Ia tak tega untuk menhujamkan pedang kepada saudaranya sesama Muslim. Ia meninggal dalam usia 77 tahun.

Al Farghani, Rujukan Astronom Eropa

Astronomi merupakan ilmu yang telah lama menjadi objek kajian umat Islam. Melalui kajian ilmu ini umat Islam mampu mengurai misteri benda-benda langit dan memberikan sumbangan berharga di dalamnya. Tak heran pula jika banyak astronom Muslim dan menyumbangkan pemikirannya dalam karya yang dibukukukan. Sebagian besar karya mereka pun menjadi rujukan. Tak hanya oleh ilmuwan semasanya yang juga Muslim namun juga oleh ilmuwan non-Muslim. Buku karya mereka telah melintasi batas wilayah. Karya mereka tak hanya dirujuk di negeri asalnya namun juga bangsa-bangsa lainnya, semisal di Eropa. Salah satu astronom Muslim yang berhasil menorehkan prestasi gemilang itu adalah Abu'l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Pria yang karib disapa Al-Farghani ini lahir di Farghana. Ia adalah salah satu astronom yang hidup pada masa pemerintahan khalifah Al-Mamun pada abad kesembilan dan pewaris pemerintahan selanjutnya. Pada masa itu pemerintah memang memberikan dukungan bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kajian astronomi. Bahkan khalifah membangun sebuah lembaga kajian yang sering disebut sebagai Akademi Al-Mamun. Al-Farghani merupakan salah satu ilmuwan yang direkrut untuk bergabung di dalam akademi tersebut. Al-Farghani bersama astronom lainnya telah menggunakan peralatan kerja yang canggih pada masanya. Mereka mampu memanfaatkan fasilitas yang ada, hingga mampu menghitung ukuran bumi, meneropong bintang-bintang dan menerbitkan berbagai laporan ilmiah. Dan kemudian Al-Farghani pun mampun menuliskan sebuah karya astronomi yang di kemudian hari menjadi rujukan banyak orang. Ia menuliskan Kitab fi al-Harakat al-Samawiya wa Jawami Ilm al-Nujum yang dalam dialihbahasakan menjadi The Elements of Astronomy. Buku ini isinya mengenai gerakan celestial dan kajian atas bintang. Pada abad kedua belas buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan astronomi di Eropa sebelum masa Regiomontanus. Al-Farghani memang mengadopsi teori-teori Ptolemaeus namun kemudian ia kembangkan lebih lanjut. Hingga akhirnya ia mampu membentuk teorinya sendiri. Selain itu ia pun kemudian berhasil menentukan besarnya diameter bumi yang mencapai 6.500 mil. Al-Farggani menjabarkan pula jarak dan diameter planet lainnya. Ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa. Tak heran jika buku karya Al-Farghani tersebut mendapatkan respons yang positif tak hanya oleh kalangan Muslim juga ilmuwan non-Muslim. Terkenalnya karya Al-Farghani ini disebabkan adanya upaya penerjamahan atas karyanya tersebut. Dua terjemahan The Elements of Astronomy dalam bahasa latin ditulis pada abad kedua belas. Salah satunya ditulis oleh John Seville pada 1135 yang kemudian direvisi oleh Regiomontanus pada 1460-an. Sedangkan terjemahan lainnya ditulis oleh Gerard Cremona sebelum 1175. Karya selanjutnya disusun oleh Dante yang dilengkapi oleh pemahaman dirinya mengenai astronomi dan ia masukan dalam karyanya, La Vita Nuova. Seorang ilmuwan Yahudi, Jacob Anatoli menerjemahkannya pula ke dalam bahasa Yahudi. Ini menjadi versi latin ketiga yang dibuat pada 1590. Dan pada 1669 Jacob Golius menerbitkan teks latin yang baru. Bersamaan dengan karya-karya tersebut, banyak ringkasan karya Al-Farghani yang beredar di kalangan saintis dan ini memberikan kontribusi bagi perkembangan pemikiran Al-Farghani di Eropa. Kelak kemudian hari, The Elements of Astronomy diakui memang sebagai sebuah karya yang sangat berpengaruh. Seorang ilmuwan yang bernama Abd al-Aziz al-Qabisi memberikan komentar atas karya Al-Farghani tersebut, yang kemudian komentar Abd al-Aziz ini tersimpan di Istanbul sebagai manuskrip yang sangat berharga. Manuskrip lainnya juga banyak bertebaran di berbagi perpustakaan yang ada di Eropa. Ini membuktikan pula bahwa pemikiran Al-Farghani menjadi acuan dalam perkembangan astronomi di Eropa. Aktivitas Al-Farghani tak melulu di bidang astronomi namun ia pun melebarkan aktivitasnya di bidang teknik. Ini terbukti jika kita mengutip ucapan seorang ilmuwan yang bernama Ibn Tughri Birdi. Ia menyatakan, Al-Farghani pernah ikut dalam melakukan pengawasan pembangunan Great Nilometer, merupakan alat pengukur air, di Fustat atau Kairo Lama. Bangunan tersebut rampung pada 861 bersamaan dengan meninggalnya Kalifah Al-Mutawwakil yang memerintahkan adanya pembangunan Nilometer tersebut. Tughri menyatakan bahwa semula Al-Farghani memang tak dilibatkan. Namun ia akhirnya terlibat juga karena harus melanjutkan tugas yang dibebankan kepada putra khalifah yaitu Musa Ibn Shakir, Muhamad dan Ahmad. Ia harus melakukan pengawasan atas penggalian kanal yang dinamakan Kanal Al-Ja'fari di kota baru Al-Ja'fariyya, yang letaknya berdekatakan dengan Samaran di daerah Tigris. Al-Farghani saat itu memerintahkan penggalian kanal dengan membuat hulu kanal digali lebih dalam dibandingkan bagian lainnya. Maka tak ada air yang cukup mengalir pada kanal tersebut kecuali pada saat permukaan air Sungai Tigris sedang pasang. Kebijakan Al-Farghani ini kemudian didengar oleh sang khalifah dan membuatnya marah. Namun hitungan Al-Farghani kemudian dibenarkan oleh seorang pakar teknik lainnya yang berpengaruh pula, yaitu Sind Ibn Ali. Sind membenarkan perhitungan yang dilakukan oleh Al-Farghani. Paling tidak ini membuat khalifah menerima kebijakan tersebut. Dalam bidang teknik, Al-Farghani juga menelurkan karya dalam bentuk buku yaitu Kitab al-Fusul, Ikhtiyar al-Majisti, dan Kitab 'Amal al-Rukhamat. ( fer/berbagai sumber )

Pengaruh Ibn Al-Baitar, Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran Dunia

Nama lengkapnya Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi. Namun salah satu ilmuwan Muslim terbaik yang pernah ada ini lebih dikenal sebagai Ibnu Al-Baitar. Dia dikenal sebagai ahli botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada abad pertengahan. Dilahirkan pada akhir abad 12 di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut. Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan. Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia. Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan dipercaya menjadi kepala ahli tanaman obat. Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan. Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpulkan tanaman dari sejumlah lokasi di sana. Sumbangsih utama Al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrada. Buku ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad 16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 item, terbanyak adalah tumbuhan obat dan sayur mayur termasuk 200 tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut pun dirujuk oleh 150 penulis, kebanyakan asal Arab, dan dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke bahasa Latin serta dipublikasikan tahun 1758. Karya fenomenal kedua Al-Baitar adalah Kitab al-Mlughni fi al-Adwiya al-Mufrada yakni ensiklopedia obat-obatan. Obat bius masuk dalam daftar obat terapetik. Ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada masalah pembedahan yang dibahas dalam kitab ini, Al-Baitar banyak dikutip sebagai ahli bedah Muslim ternama, Abul Qasim Zahrawi. Selain bahasa Arab, Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta memberikan transfer pengetahuan. Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta pengklasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembangan ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain yakni kitab Al-Jami baru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahasan dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia. ( yus/berbagai sumber )

Omar Khayyam, Meniti Jalan Mendaki

Setiap keadaan memberikan hikmah tersendiri. Ia memberi kesempatan bagi seseorang untuk berpikir menghadapi keadaan tersebut, membuatnya mampu mendayagunakan potensi yang ada dalam dirinya. Itulah yang dialami Omar Khayyam. Kedaanlah yang membuatnya memiliki nama besar. Ia tak hanya besar sebagai ahli matematika maupun astronom. Ia pun memiliki nama besar dalam karya sastra. Ia memiliki keahlian dalam menuliskan bait-bait puisi. Bahkan ia pun memiliki karya monumentalnya, Rubaiyat. Omar Khayyam yang bernama lengkap Ghiyath al-Din Abu'l-Fath Umar ibn Ibrahim Al-Nisaburi al-Khayyami. Ia lahir di Khorassan, Iran pada pertengahan abad ke-11. Dan, keadaanlah yang membuatnya mampu mendayagunakan segala potensinya. Terlatih berpikir
Peristiwa-peristiwa politik pada abad kesebelas memainkan peran penting dalam kehidupan Khayyam. Dinasti yang berkuasa di Iran kala itu, Dinasti Saljuk, sedang gencar berinvasi ke bagian barat daya Asia. Pada akhirnya membangun imperium yang mencakup Mesopotamia, Suriah, Palestina. Semula memang Saljuk menguasai Khorassan, dan antara 1038 dan 1040 mereka hampir menguasai seluruh bagian Iran. Dalam situasi politik yang tak stabil itulah Khayyam menjalani hidupnya. Hidup yang begitu susah, kecuali mereka yang memiliki hubungan dekat penguasa. Mereka yang memiliki kekuasaan akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, tampaknya kondisi ini memberikan sebuah berkah bagi Khayyam. Ia menelaah setiap peristiwa yang ada di hadapannya. Bahkan ia terlatih untuk berpikir. Pada periode itu, ia bahkan mengenalkan sebuah karya yang menyangkut kajian Aljabar. Meski mengaku tak dapat sepenuhnya mengkaji Aljabar karena banyak kendala yang ia jumpai, bagaimanapun Khayyam merupakan pakar matematika yang mumpuni. Kemampuan Khayyam tak sampai di situ. Ternyata ia pun memiliki kemampuan dalam kajian astronomi. Sayang kemampuan ini belum tergali sempurna akibat keadaan politik yang tak menentu. Maka pada 1070 ia meninggalkan Khorassan menuju Samarkan di Uzbekistan. Samarkan merupakan kota tertua di Asia Tengah. Di tanah rantau ini, Khayyam beruntung memiliki hubungan erat dengan seorang petinggi. Seorang hakim yang bernama Abu Tahir. Berkat pertemanan ini, ia mampu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Tak lama berselang, lahirlah karya monumental di bidang aljabar, Treatise on Demonstration of Problems of Algebra. Ini merupakan penyempurnaan kajian aljabarnya ketika masih di Khorassan. Waktu itu ia belumlah mencapai umur 25 tahun. Kembali ke Iran
Sementara di tanah airnya, Iran, pendiri Dinasti Saljuk, Toghril Beg, menjadikan Isfahan menjadi ibu kota pemerintahan. Ini terjadi pada 1073. Cucunya yang bernama Malik Syah dipercaya memegang tampuk kekuasaan di kota tersebut. Kemampuan Khayyam di negeri seberang terdengar pula oleh Malik Shah.Dan menginginkan Isfahan menjadi pusat kajian ilmiah. Maka Malik Shah pun mengirimkan undangan kepada Khayyam untuk kembali ke Isfahan. Ia meminta Khayyam mendirikan pusat observatori di Isfahan. Selama 18 tahun Khayyam mengaktulisasikan dirinya. Situasi politik yang amanlah yang membuatnya mampu berbuat banyak. Khayyam berhasil membuat tabel astronomi dan melakukan perubahan pada perhitungan kalender pada 1079. Khayyam menghitung masa satu tahun adalah 365.24219858156 hari. Banyak ilmuwan berkomentar atas kecemerlangan Khayyam ini. Sebab, Khayyam mampu menghasilkan penghitungan yang memiliki tingkat akurasi tinggi. Sebab penghitungan pada masa sesudahnya ternyata tak banyak berbeda. Para astronom pada akhir abad ke-19 menyatakan bahwa satu tahun adalah 365.242196 hari. Sedangkan hitungan terkini satu tahun memiliki 365.242190 hari. Jadi tak berbeda jauh dengan hitungan yang telah dilakukan Khayyam berabad-abad sebelumnya. Sayang pergolakan politik terjadi kembali. Pada November 1092 Malik Syah yang memberikan keleluasaan pada Khayyam meninggal. Sebulan kemudian, putra Malik, Nizaam al-Mulk terbunuh saat menempuh perjalanan dari Isfahan ke Baghdad oleh gerakan pemberontak. Kemudian istri kedua Malik Shah mengambil alih kekuasaan. Diserang teman sendiri
Penguasa baru di Iran ini tak memberikan sokongan yang berarti bagi pencapaian Khayyam dan rekan saintisnya. Perubahan perhitungan kalender juga tak berlanjut. Di sisi lain Khayyam diserang oleh kaum Muslim sendiri. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan Khayyam tak sejalan dengan keyakinan Islam. Lagi-lagi, keadaan memberikan keuntungan tersendiri bagi Khayyam. Ia memiliki kemampuan lainnya, menuliskan puisi yang menggambarkan jalan hidup yang dilaluinya. Ia menuliskan perasaannya saat diserang oleh saudara seimannya sendiri. Dalam karyanya, Rubaiyat. Karyanya kini masih tersimpan di negeri kelahirannya, Iran. Melalui puisi pula ia mengingatkan pula kepada masyarakatnya bahwa para pendahulu di Iran merupakan orang-orang terhormat. Mereka selalu memberikan ruang luas bagi semua karya ilmiah. Tak lama memang Khayyam merasakan kungkungan dalam mengembangkan kemampuannya dalam bidang ilmiah. Seperti masa sebelumnya, Khayyam mencari tempat yang aman untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya. Ia meninggalkan Isfahan menuju Merv (Turkmenistan). Di sana putra ketiga Malik Syah, Sanjar, menjadikan wilayah tersebut menjadi ibu kota baru bagi kekaisaran Saljuk. Sanjar membuat pusat kajian Islam di Merv dan memberikan kebebasan ilmiah bagi masyarakat islam. Lagi-lagi Khayyam mampu memanfaatkan kondisi itu untuk berkarya. Kajian matematika ternyata menjadi titik perhatiannya waktu itu. Ia menelurkan sebuah pemecahan mengenai persamaan kubik. Temuan itu membuat ia menjadi panutan para pakar matematika setelah masanya. Laiknya sebuah keadaan. Masa juga memiliki ujungnya. Khayyam pun secara alamiah memiliki akhir masa hidupnya. Allah SWT menentukan batas hidup Khayyam pada akhir abad keduabelas. Ia telah meninggalkan karya monumental yang patut dibanggakan. ( fer/berbagai sumber )